Ada kalanya kita perlu mensyukuri hal-hal kecil agar kembali mampu merasakan hal-hal besar. Kesadaran itu tidak datang kepada saya melalui peristiwa yang luar biasa. Ia muncul dari perjalanan singkat ke sebuah gunung di Bogor Timur.
Hal-hal sederhana yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Namun bukankah makna memang sering kali bersifat demikian? Ia tidak selalu melekat pada peristiwanya, tetapi lahir dari orang yang mengalaminya.
Perjalanan yang Dimulai dari Ingatan
Jumat lalu, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, pekerjaan membawa saya ke Cianjur. Perjalanan dinas biasanya ditandai melalui jadwal kegiatan, surat tugas, rapat, dan notula yang harus segera dikirimkan. Semuanya terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara administratif. Namun perjalanan tertentu diam-diam membawa kita ke ruang-ruang dalam diri yang jarang kita kunjungi.
Di tengah perjalanan, saya teringat pada rencana mendaki Gunung Gede pada Februari lalu. Rencana itu batal karena Uda saya meninggal dunia.
Ada perjalanan yang batal karena cuaca. Ada yang tertunda karena pekerjaan.Ada pula yang tidak pernah dimulai karena kehidupan lebih dahulu menyampaikan kabar kehilangan.
Dalam perjalanan menuju Cianjur, saya melewati sebuah kafe. Di tempat itulah saya dahulu menerima berita duka tersebut. Kini kafe itu telah berubah fungsi. Mungkin usaha itu tidak cukup kuat menanggung biaya operasional. Mungkin angka-angka dalam pembukuannya tidak lagi mampu mempertahankan aroma kopi, meja-meja, dan percakapan para pengunjung.
Tempat itu sudah berubah, tetapi perasaan ketika menerima kabar tersebut masih terasa seperti kemarin. Begitulah waktu bekerja. Ia dapat mengganti papan nama, mengubah fungsi bangunan, dan menutup sebuah usaha. Namun terhadap kehilangan, waktu terkadang hanya menjadi pencatat tanggal kepergian, tetapi tidak memberi tahu hati kapan kenangan harus dipindahkan ke ruang ingatan.


Barangkali beberapa peristiwa memang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya mundur beberapa langkah, bersembunyi di balik pekerjaan dan kesibukan, lalu muncul kembali ketika kita melewati tempat yang pernah menjadi saksi.
Kebetulan yang Disengaja
Acara selesai pada Jumat pagi. Karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dan kirimkan, saya baru keluar dari hotel sekitar pukul dua belas siang. Semula saya berniat pergi ke Cisadon. Namun waktu tempuhnya sekitar satu setengah jam, sedangkan perjalanan menuju Gunung Luhur hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Akhirnya saya memilih Gunung Luhur.

Keputusan itu praktis dan tidak terlalu puitis.
Tidak ada panggilan dari alam semesta. Tidak ada ilham yang turun dari langit. Hanya perhitungan sederhana antara waktu, jarak, dan tenaga yang tersisa.
Namun, bukankah sebagian besar hidup memang bergerak melalui pilihan keputusan-keputusan semacam itu?
Memilih arah yang berbeda.
Memilih untuk tidak langsung pulang.
Ini merupakan kunjungan kedua saya ke Gunung Luhur tahun ini. Namun saya menyebutnya sebagai kebetulan yang disengaja. Kesempatannya mungkin datang secara kebetulan, tetapi saya tetap harus memilih untuk menjalaninya.
Saya berpikir, jika bukan sekarang, kapan lagi? Belakangan, waktu terasa semakin sempit. Akhir pekan lebih sering menggoda saya untuk berbaring di rumah. Rencana cuti pun belum juga menjadi kenyataan. Saya terus menunggu waktu yang lebih panjang untuk bepergian, seolah sebuah perjalanan hanya layak dilakukan jika tersedia beberapa hari penuh.

Kita sering menolak menikmati dua jam karena menunggu waktu dua hari.
Kita menunda kebahagiaan kecil demi kesempatan besar yang belum tentu datang. Kita menunggu pekerjaan lebih longgar, badan lebih bugar, cuaca lebih ramah, isi rekening lebih bersahabat, dan rencana yang lebih sempurna.
Kita menunggu hidup memberikan izin.
Padahal hidup jarang memberikan persetujuan.
Karena kita hidup di sedikit atau bahkan tiada pilihan.
Maka siang itu saya berangkat.
Harga Sebuah Perjalanan
Ketika tiba, area parkir Gunung Luhur terlihat cukup sepi. Dalam perjalanan singkat itu, saya mengeluarkan uang untuk beberapa keperluan:
Tiket masuk: Rp25.000
Parkir motor: Rp10.000
Titip tas: Rp10.000
Indomie: Rp15.000
Jas hujan: Rp15.000
Beng-Beng: Rp5.000
Nasi pepes ayam: Rp25.000
Totalnya Rp105.000.
Seratus lima ribu rupiah harga perjalanan.
Untuk ukuran pelatihan pengembangan diri, tentu saja ini cukup murah. Tidak ada sertifikat, tidak ada seminar kit, dan tidak ada pembicara yang mengajarkan cara keluar dari zona nyaman dari dalam ruangan berpendingin udara.
Hidup kadang menyampaikan pelajarannya secara lebih langsung, lebih perih.

Perkiraan yang Meleset
Cuaca siang itu tidak panas. Tanah terlihat basah, seperti baru saja diguyur hujan. Keadaan ini terasa lebih menyenangkan dibandingkan kunjungan beberapa bulan sebelumnya, ketika tanah kering dan debu mudah beterbangan di sepanjang jalur.
Namun tidak semua warung di pos pendakian buka. Saya tidak membawa logistik yang cukup. Saya juga tidak mengenakan sepatu hiking, tidak membawa trekking pole, bahkan tidak membawa jas hujan.
Saya hanya mengandalkan pengalaman dari perjalanan sebelumnya. Saat itu terdapat cukup banyak warung dan hujan tidak turun. Karena pernah mengalami kondisi tersebut sekali, saya mengira keadaan yang sama akan kembali terulang.
Begitulah kesombongan kecil bekerja.
Kita mengalami sesuatu satu kali, kemudian menganggap dunia berkewajiban mengulangi pola yang sama. Pengalaman yang seharusnya membuat kita lebih bijaksana justru kadang-kadang membuat kita terlalu percaya diri.
Saya telah menetapkan target untuk turun sebelum pukul tiga sore. Saya tidak ingin kemalaman. Gunung pada siang hari masih dapat menjadi tempat mencari udara segar. Namun gunung menjelang malam, bagi orang yang tidak membawa perlengkapan memadai, dapat berubah menjadi tempat mengevaluasi seluruh keputusan hidup.
Kemudian hujan turun dengan deras.
Saya mempercepat langkah menuju warung terakhir yang masih buka sebelum puncak. Informasi mengenai warung tersebut saya dapatkan dari beberapa pendaki yang berpapasan di jalan.
Syukurlah, warung itu benar-benar buka.
Di sana tersedia semangkuk Indomie telur yang terasa sangat nikmat.
Saya duduk, menghangatkan tubuh, dan makan dengan lahap. Pada saat itulah saya menyadari bahwa kenikmatan sering kali tidak berasal dari sesuatu yang mewah. Ia lahir dari pertemuan yang tepat antara kebutuhan dan pertolongan, semangkuk mie hangat sekelas perjamuan kasih.

Saya mulai membuat daftar kebetulan-kebetulan kecil:
Makanan hangat ketika lapar.
Tempat berteduh ketika hujan.
Kursi ketika lelah.
Percakapan ketika perjalanan terasa sepi.
Sederhana, tetapi datang pada saat yang tepat.
Dan segala sesuatu yang datang tepat waktu sering kita sebut sebagai berkah.
Percakapan di Warung Terakhir
Di warung itu saya berbincang singkat dengan seorang pendaki dari Tangerang. Ia datang dengan sepeda motor. Saya tidak dapat membayangkan seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuhnya dan seberapa lelah tubuhnya.
Ia bercerita bahwa dirinya tidak sempat berfoto di puncak karena hujan telanjur turun.
Saya terdiam mendengarnya.
Kadang-kadang kita berjalan sangat jauh untuk mengalami sesuatu, tetapi ketika tiba, kita justru sibuk mencari cara agar orang lain mengetahui bahwa kita pernah berada di sana.
Puncak dianggap belum sah tanpa foto. Perjalanan terasa belum lengkap jika belum diunggah. Kaki boleh tiba lebih dahulu, tetapi pengakuan publik tetap harus segera menyusul.
Kita yang katanya pergi untuk menikmati perjalanan, diam-diam bekerja sebagai petugas dokumentasi bagi kehidupan sendiri. Padahal tidak semua pengalaman harus memiliki bukti. Ada hal-hal yang nilainya justru terletak pada kenyataan bahwa ia hanya tinggal dalam ingatan kita: rasa dingin, tubuh yang lelah, percakapan singkat dengan orang asing, atau kekecewaan karena hujan datang terlalu cepat.

Setelah makan, saya membeli jas hujan.
Tentu saja membeli jas hujan setelah hujan turun bukanlah contoh terbaik dari kesiapsiagaan. Namun hidup sering kali memiliki selera humor semacam itu. Kita baru membeli perlindungan setelah telanjur basah, belajar menjaga keseimbangan setelah jatuh, dan memahami nilai kesehatan setelah tubuh mulai memberikan peringatan.
Saya berpikir, sudah telanjur basah.
Lalu saya melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Luhur.
Manusia yang Menciptakan Makna
Di sinilah pemikiran Jean-Paul Sartre memiliki tempat dalam perjalanan sederhana tersebut. Salah satu gagasan penting Sartre adalah bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia hadir terlebih dahulu di dunia, lalu membentuk siapa dirinya melalui pilihan dan tindakan. Kita tidak dilahirkan sebagai pribadi yang sudah selesai, lengkap dengan tujuan dan makna hidup yang telah ditetapkan. Diri kita terus dibentuk oleh apa yang kita pilih dan kerjakan.
Dengan kata lain, makna tidak selalu tersedia sebagai sesuatu yang tinggal ditemukan.
Gunung Luhur tidak otomatis memiliki makna bagi saya. Ia hanyalah tanah, pepohonan, udara, tanjakan, dan bebatuan. Hujan hanyalah air yang jatuh dari langit. Indomie hanyalah makanan instan. Jas hujan hanyalah selembar plastik pelindung.
Semua itu mulai memiliki arti ketika hadir di dalam pengalaman manusia. Gunung menjadi tempat saya mengingat kehilangan. Hujan menjadi peristiwa yang menguji keputusan. Warung kecil menjadi tempat perlindungan. Semangkuk mi menjadi wujud pertolongan. Jas hujan menjadi pengingat bahwa kesiapan sering datang terlambat, tetapi tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Makna tidak datang dari benda-benda itu sendiri. Makna lahir dari hubungan antara keadaan, kesadaran, dan pilihan manusia.
Sartre melihat manusia sebagai makhluk yang bebas, tetapi kebebasan tersebut bukan kebebasan tanpa batas. Kita selalu berada dalam keadaan tertentu yang tidak seluruhnya kita pilih: tubuh yang lelah, waktu yang sempit, hujan yang turun, perlengkapan yang kurang, serta masa lalu yang tidak dapat dibatalkan. Namun di tengah seluruh keterbatasan itu, kita masih dapat menentukan sikap dan memilih tindakan.
Saya tidak dapat memilih agar hujan berhenti.
Saya tidak dapat mengubah sepatu biasa menjadi sepatu hiking. Saya juga tidak dapat kembali ke hotel dan mengambil perlengkapan yang sejak awal memang tidak saya bawa.
Keadaan telah diberikan.
Namun respons saya terhadap keadaan itu belum selesai ditentukan.
Saya masih dapat memilih untuk berteduh, membeli jas hujan, kembali turun, atau melanjutkan perjalanan. Kebebasan tidak membuat hujan berhenti, tetapi memberi saya ruang untuk menentukan apa yang akan saya lakukan ketika hal itu terjadi.
Kehilangan yang Tidak Dipilih
Pemikiran Sartre menjadi lebih dalam ketika diterapkan pada pengalaman kehilangan.
Saya tidak memilih kepergian uda. Saya juga tidak memilih menerima kabar duka di sebuah kafe dalam perjalanan. Peristiwa itu hadir sebagai kenyataan yang tidak dapat ditawar dan tidak dapat dibatalkan.
Namun kenyataan tersebut tidak harus menjadi satu-satunya kalimat yang menentukan kehidupan saya setelahnya.
Saya memang seseorang yang pernah kehilangan. Namun saya juga seseorang yang setelah kehilangan itu masih menjalani hidup dan melakukan hal-hal remeh seperti tadi.
Dalam pandangan Sartre, manusia tidak dapat terus-menerus memperlakukan dirinya hanya sebagai hasil keadaan. Ketika seseorang menganggap dirinya tidak mempunyai pilihan sama sekali, ia berisiko menyangkal kebebasannya sendiri. Sartre membahas penyangkalan semacam ini melalui konsep bad faith, yakni bentuk penipuan terhadap diri ketika manusia melarikan diri dari tanggung jawab atas kebebasannya.
Tentu saja, tidak semua keadaan dapat kita ubah. Tidak semua luka dapat kita sembuhkan hanya dengan berpikir positif. Menemukan makna juga bukan berarti berpura-pura bahwa kehilangan tidak menyakitkan. Namun rasa sakit dan kehilangan tidak sepenuhnya menghapus kemampuan kita untuk memilih bagaimana kehidupan akan dilanjutkan.
Masa lalu adalah kenyataan. Tetapi diri kita bukan hanya masa lalu. Kita juga merupakan kemungkinan.
Ironi-Ironi di Sepanjang Jalan
Ketika tiba di puncak, tidak ada orang lain di sana. Hujan telah membubarkan kerumunan. Tidak ada antrean untuk berfoto. Tidak ada suara ramai. Tidak ada orang yang sibuk mencari sudut terbaik.
Beberapa bulan sebelumnya, puncak itu dipenuhi orang yang mengantre untuk mengabadikan gambar. Kali ini, hujan mengosongkannya.
Di situlah ironi pertama muncul.
Hujan yang semula saya anggap sebagai gangguan justru memberikan sesuatu yang tidak saya peroleh pada perjalanan sebelumnya: kesunyian. Saya ingin cuaca yang bersahabat, tetapi justru cuaca buruk yang menghadirkan puncak dalam keadaan paling tenang. Saya menganggap hujan akan merusak perjalanan, tetapi ternyata ia memberikan pengalaman yang berbeda.
Ironi kedua pada persiapan saya.
Saya datang untuk menikmati alam, tetapi mengandalkan asumsi bahwa alam akan mengikuti pengalaman saya sebelumnya. Saya ingin perjalanan berjalan lancar, tetapi tidak membawa perlengkapan yang mendukung kelancaran tersebut.
Saya ingin terlindungi dari hujan, tetapi baru membeli jas hujan setelah basah.
Sulit menemukan gambaran yang lebih jujur tentang manusia daripada itu: kita menginginkan perlindungan, tetapi sering baru mencarinya setelah masalah datang.
Ironi ketiga muncul ketika saya mengambil beberapa gambar di puncak. Beberapa saat sebelumnya, saya sempat merenungkan seseorang yang tidak sempat berfoto karena hujan. Saya berpikir bahwa perjalanan tidak membutuhkan pengakuan publik agar menjadi sah. Namun setibanya di puncak, saya tetap mengeluarkan telepon dan mengambil gambar. Rupanya kritik kepada kebiasaan manusia sering berakhir ketika kebiasaan itu berguna bagi diri sendiri. Kita menertawakan orang yang sibuk mencari foto terbaik, lalu beberapa menit kemudian melakukan hal yang sama dengan alasan “sekadar dokumentasi”.


Ironi ketempat adalah ketika dalam perjalanan turun.
Jalanan menjadi licin, sedangkan sepatu saya tidak mendukung medan tersebut. Saya terpeleset dua kali. Pada saat seperti itu, filsafat tidak banyak menolong.
Tanah tidak peduli apakah saya memahami eksistensialisme. Gravitasi tidak memberikan dispensasi kepada orang yang sedang mencari makna kehidupan. Sepatu yang tidak sesuai tetaplah sepatu yang tidak sesuai. Alam memiliki cara yang sederhana untuk meruntuhkan kesombongan intelektual manusia.
Kita dapat berbicara tentang kebebasan, makna, dan keberanian memilih. Namun pada akhirnya, sepatu yang tidak cocok, ya tidak cocok saja, tak perlu debat panjang.

Untunglah udara terasa segar. Tidak ada debu. Jalur pun tidak terlalu padat. Setelah dua kali terpeleset, saya memelankan kecepatan. Rupanya rasa syukur sering muncul setelah kehidupan menurunkan standar kebahagiaan.
Sebelum Menunggu Hal Besar
Mungkin kita terlalu sering mencari makna dalam hal-hal besar. Kita mengharapkannya hadir setelah mencapai puncak tertinggi, menyelesaikan perjalanan panjang, memperoleh jabatan baru, mencapai target tertentu, atau mengambil cuti ke tempat yang jauh.
Kita membayangkan makna sebagai hadiah utama yang baru diberikan setelah kehidupan mencapai skala tertentu.
Padahal sebagian besar hidup tidak dibentuk oleh peristiwa besar.
Ia dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil yang nyaris tidak terlihat.
Barangkali makna tidak selalu berada di puncak.
Ia mungkin menunggu di warung terakhir
dalam semangkuk mi instan, dalam jas hujan murah yang dibeli terlambat, dalam percakapan singkat dengan orang asing.
Menemukan makna dalam hal-hal kecil bukan berarti berpura-pura bahwa semua keadaan selalu baik. Kehilangan tetap menyakitkan. Jalan licin tetap berbahaya. Keputusan yang ceroboh tetap perlu dievaluasi.
Makna bukanlah hiasan yang kita tempelkan pada kesulitan agar semuanya terlihat indah.
Makna adalah jawaban yang kita bangun melalui cara kita menjalani keadaan tersebut.
Gunung Luhur tidak memberi saya jawaban besar hari itu. Ia hanya memberi hujan, semangkuk Indomie telur, jas hujan seharga lima belas ribu rupiah, percakapan singkat, puncak yang sepi, udara tanpa debu, jalan licin, dan dua kali terpeleset.
Termasuk menuliskan kembali hal ini.
Namun mungkin hidup memang lebih sering berbicara melalui hal-hal kecil semacam itu.


