Ia mengenalkan dirinya Gondrong, karena memang begitu adanya — rambutnya panjang, agak kusut, tapi raut wajahnya selalu ramah. Sudah beberapa tahun saya menjadi langganannya setiap kali makan siang.
Saya memang punya kebiasaan makan siang di luar kantor. Alasannya sederhana: supaya tidak bosan di ruangan terus. Hitung-hitung, sekalian jalan kaki, biar ada sedikit olahraga. Dari kantor ke tempat Gondrong hanya sekitar 700 meter, jadi pulang-pergi sekitar 1,4 km. Lumayan untuk sekadar meregangkan pikiran dan kaki.
Gondrong jualan mie ayam. Seporsinya cuma sepuluh ribu rupiah. Tapi jangan salah, rasanya enak, gurihnya pas, dan kuahnya bikin nagih. Di bawah rindang pohon besar, ia mendorong gerobaknya, menyiapkan mangkuk satu per satu dengan cekatan.

Suatu waktu ia sempat tidak kelihatan beberapa minggu. Ketika saya tanya, katanya ia pulang ke kampung halamannya di Cirebon untuk panen padi. Ia bercerita dengan antusias bagaimana sekarang lebih efisien menggunakan mesin ketimbang membayar tenaga kerja.
“Dulu, ngupah orang banyak, sekarang tinggal sewa mesin, sehari bisa kelar,” katanya sambil tersenyum. Tapi ia juga bercerita tentang gagal panen — ada yang tumbuhnya terlalu cepat, ada yang terendam banjir. Dari situ saya sadar, bahkan cerita tentang mie ayam di bawah pohon pun bisa menyentuh soal perubahan iklim.
Antara GoFood dan Cinta
Pernah suatu siang ia bilang ingin masuk ke GoFood. Saya bantu mendaftarkannya. Sekarang kalau kamu cari “Mie Ayam Gondrong” di aplikasi, mungkin kamu akan menemukannya. Ia bangga bercerita, sudah banyak pesanan online sekarang.

Kadang, ia juga cerita soal asmara. Tentang perempuan yang ia dekati, ajak nonton, dan baru-baru ini sedang sakit — katanya gejala demam berdarah. Ceritanya sederhana, tapi selalu hangat.
Di Bawah Pohon dan Musik
Yang saya suka dari warung Gondrong adalah suasananya. Ia selalu memutar musik lewat speaker kecil — dari lagu lawas sampai pop romantis. Kami ngobrol santai sambil menyeruput kopi, di bawah pohon besar, ditemani lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi.
Di sela obrolan itu, saya sering berpikir betapa beruntungnya saya. Saya tidak harus mendorong gerobak, tidak harus menutup jualan saat hujan atau razia datang. Saya punya pekerjaan tetap, dan di titik itu saya diingatkan untuk bersyukur atas apa pun yang saya miliki.
Cerita Gondrong selalu mengingatkan saya bahwa di balik setiap gerobak, ada kisah manusia. Dan mendengar cerita-cerita seperti itu, membuat hidup terasa lebih manusiawi.
Hari itu, lagu **“Soulmate”** dari Kahitna tiba-tiba terdengar dari speakernya. Saya yang sedang menyesap kopi ikut bersenandung pelan,
> “…meskipun tak mungkin lagi, tuk menjadi pasanganku….namun kuyakin cinta, kau kekasih hati…”
Hiburan selesai. Perut kenyang. Pikiran tenang. Siap kembali menghadapi dunia — yang kadang penuh kemunafikan, tapi tetap bisa kita hadapi dengan sedikit tawa dan semangkuk mie ayam dari Gondrong.