
Satu minggu berlalu dari tahun baru. Dari hampir pulang tiap larut dan terakhir harus terlalu lelah fisik dan mental, saya memberi waktu pada tubuh dan pikiran untuk rehat.
sebuah tautan kelas saya klik dan masuk untuk mendapatkan id zoom meeting sebuah seminar kelas filsafat. Augustinus Setyo Wibowo yang sudah saya kenal lewat tulisannya di majalah basis dan pernah bertemu langsung di sebuah seminar di gereja katedral Jakarta, menjadi moderator acara itu.
Ada Rm Dr.C.B Mulyatno dan Ibu Sri Wahyaningsih yang bergantian menerangkan bagaimana pendidikan yang merdeka, yang berpihak pada anak anak didik. Bahkan sekolah yang dikelola ibu Sri menyatakan pada assesor akreditasi bahwa sekolahnya bukan pengabdi administrasi, tetapi pengabdi pendidikan anak-anak. Bahwa Romo Mangun pun tidak merekomendasikan adanya sistem ranking pada pendidikan. Karena tiap anak akan terbentuk belajar bukan menyenangkan tetapi berkompetisi. Dan itu tidak baik untuk pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain, tidak memerdekakan.
Saya merenungkan kembali apa kata sahabat saya yang pusing mencari sekolah terbaik untuk anaknya, kriteria sekolah bagus pun dipersepsikan. Saya juga pernah berdiskusi dengan seorang pengelola sekolah yayasan. Ia membangun tata kelola sekolah yang terpuruk akibat salah kelola, kembali bahwa kualitas guru adalah kunci keberhasilan pendidikan.
Persoalannya, apakah menjadi guru adalah panggilan atau banyak terkuras waktu dan tenaga untuk memenuhi syarat administrasi?

Maka istirahat saya, menjadi tidak bertambah menyegarkan. Saya merasa salah didik.
Sekian
06/01/2024