30 Hari Bercerita #18 Mitos Multitasking

Dalam perbincangan, atau kesempatan, soal multi tasking adalah sebuah keunggulan kompetitif. Seringnya, pekerja perempuan mengakui, bahwa mereka lebih mampu bekerja secara multi tasking. Apakah dengan demikian, pekerja perempuan lebih efisien? Mitos itu tampaknya masoh sering diperbincangkan. Seolah-olah, kemampuan untuk menjadi seperti prosesor komputer yang menjalankan banyak program sekaligus adalah puncak dari efisiensi manusia.

Namun, setelah bertahun-tahun bergelut dengan dunia strategi dan analisis, saya mulai menyadari satu hal: Multitasking adalah sebuah mitos yang berbahaya.
Otak manusia, secara biologis, tidak dirancang untuk melakukan tugas kognitif berat secara paralel. Apa yang kita sebut sebagai multitasking sebenarnya hanyalah “Context Switching”—sebuah proses di mana otak kita melompat dengan sangat cepat dari satu tugas ke tugas lainnya.
Masalahnya, setiap lompatan itu tidak gratis.

Ada “biaya transaksi” yang harus dibayar oleh otak kita.

Bayangkan Anda sedang menyusun laporan (seringnya saya seperti itu) yang butuh ketelitian tinggi, lalu tiba-tiba sebuah notifikasi WhatsApp masuk, diikuti panggilan telepon, dan interupsi rekan kerja. Saat Anda kembali ke laporan tersebut, otak Anda butuh waktu beberapa menit untuk mencapai level konsentrasi yang sama seperti sebelumnya.

Secara kumulatif, “biaya perpindahan” ini bisa memangkas produktivitas hingga 40%. Lebih buruk lagi, dalam dunia analisis atau persiapan paparan, perpindahan fokus yang konstan ini adalah celah terbesar bagi munculnya kesalahan fatal. Kita merasa sibuk, padahal kita hanya sedang merasa lelah karena bolak-balik mengganti jalur pikiran.

Ada sebuah pepatah Latin kuno yang sangat relevan: “Age Quod Agis”—Lakukan apa yang sedang kamu lakukan.

Artinya sederhana namun sangat sulit dilakukan hari ini: saat sedang menulis, menulislah. Saat sedang mendengarkan, dengarkanlah. Saat sedang berjalan, berjalanlah dengan penuh kesadaran.

Efisiensi yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa banyak hal yang bisa kita sentuh dalam satu jam, melainkan seberapa dalam kualitas perhatian yang kita berikan pada satu hal yang benar-benar penting.

Di tengah dunia yang bising dengan gangguan, kemampuan untuk fokus pada satu hal telah menjadi sebuah kemewahan, bahkan sebuah keunggulan kompetitif yang nyata.

Mari berhenti memuja kesibukan yang dangkal, dan mulai menghargai kedalaman. Karena pekerjaan yang hebat tidak lahir dari sepuluh tab yang terbuka secara bersamaan, melainkan dari satu pikiran yang tenang dan tertuju sepenuhnya.

Selamat tinggal multi tasking.
Cukuplah multi asking.