30 Hari Bercerita #19 Lingkaran Setan di Pojok Kiri Atas

“Segera Koordinasikan.” “Pelajari.” “Selesaikan sesuai ketentuan.”

Hanya butuh tiga detik bagi seorang pimpinan untuk menggoreskan kalimat sakti itu di pojok kiri atas sebuah surat. Namun, bagi staf yang menerimanya, tiga kata itu sering kali menjadi teka-teki yang menghabiskan waktu berhari-hari. Itulah “sakti”-nya sebuah disposisi: instrumen yang bisa menggerakkan ribuan orang, atau justru melumpuhkan logika sebuah organisasi.

Jika kita jujur dalam kacamata organisasi, sering kali disposisi yang kabur hanyalah sebuah eufemisme dari kemalasan berpikir. Namun, mari kita coba menatap meja di seberang sana dengan empati. Sang pemberi disposisi pun sebenarnya adalah korban dari sebuah sistem yang kering. Bayangkan, setiap hari dari pagi hingga petang, asupannya hanyalah tumpukan nota dinas yang bahasanya kaku, dingin, dan tak berjiwa. 

Ia tenggelam dalam lautan birokrasi yang menuntutnya untuk terus “memutuskan”, tanpa memberinya waktu untuk “mengisi ulang”.

Tragedinya muncul di sini: ketika sang pimpinan berhenti membaca artikel terkini, berhenti membolak-balik majalah, atau tidak lagi menyentuh buku-buku yang membahas diskursus dunia modern. Ia terisolasi dalam alam pikirnya sendiri.

Akibatnya fatal. Kualitas arahannya pun hanya bersandar pada kejayaan masa lalu, pengalaman yang mungkin hebat di zamannya, namun sudah usang untuk menjawab tantangan hari ini. Disposisinya menjadi repetitif, tidak presisi, dan ketinggalan zaman. Ia memberi arahan untuk masa depan, namun menggunakan peta dari masa silam.

Inilah siklus yang melelahkan. Arahan yang “usang” melahirkan analisis yang kabur, yang kemudian bermuara pada keputusan yang ragu. Kita semua kelelahan bukan karena beban kerja, tapi karena energi yang terbuang sia-sia untuk menerjemahkan instruksi yang tidak punya dasar pijakan yang kuat.

Kepemimpinan adalah soal keberanian untuk memberikan kejelasan, dan kejelasan hanya lahir dari pikiran yang terus diperbarui. Jika seorang pimpinan berhenti menjadi pembelajar, maka disposisinya hanyalah sebuah cara untuk memindahkan masalah, bukan menyelesaikan masalah.