30 Hari Bercerita #20 DNF, Pembelajaran Sindoro

Di dunia perlombaan lari, ada tiga huruf yang sering dianggap sebagai aib: DNF. Did Not Finish. Tidak berhasil menyentuh garis akhir sesuai Cut Off Time (COT). Sebagai “balita” di dunia lari, saya pun merasakannya di Sindoro Sumbing International Race. Dan jujur saja, jika melihat ke belakang, persiapan saya memang jauh dari kata ideal. Jangan tanya soal latihan trail run, latihan road run saja minim sekali. Dalam seminggu, modal saya paling hanya beberapa kali leg press di gym. Selebihnya? Ya, sekadar jalan kaki dari apartemen ke stasiun atau jalan kaki cari makan siang.

Padahal, menghadapi gunung 3000-an MDPL dengan batas waktu (COT) hanya 8 jam itu butuh persiapan ekstra. Saya sadar diri, tenaga saya mungkin tidak cukup untuk mengejar medali finisher, tapi niat saya sudah bulat: saya ingin menyapa gunung yang namanya sering saya lihat di gerbong kereta Argo Sindoro.

Maka, saya menyusun “Kriteria Keberhasilan” versi saya sendiri:

  • Pulang harus selamat.
  • Syukur bisa sampai puncak (summit).
  • Tiada cedera. (Meski akhirnya yang ini gagal, hehe).
  • Finish sesuai COT adalah bonus.

Dengan kriteria baru itu, beban saya lepas. Saya berangkat untuk fun. Bagi saya, “race” yang sesungguhnya adalah seni mengelola logistik: mulai dari daftar, beli tiket kereta, cari race venue, cari penginapan, sampai pinjam motor. Itulah kemenangan pertama saya.

Di lintasan, realitas memukul saya. Saya memang berhasil mencapai puncak, berfoto, dan merayakan keberhasilan pribadi saya di sana. Namun, teknik downhill saya berantakan—efek kurang latihan—dan akhirnya saya cedera.

Saya memang DNF secara administratif, tapi saya merasa “finish” saat menyentuh puncak.
Namun, di balik kegagalan itu, saya mendapat bonus yang luar biasa banyak. Saya bertemu dengan banyak orang Indonesia yang baik dan ramahnya tiada ampun. Di sepanjang jalur, semangat dan sapaan dari sesama runner serta panitia menjadi pengingat bahwa di atas sana, kegembiraan (sesungguhnya) jauh lebih penting daripada catatan waktu.

oplus_131104
oplus_131075

DNF itu tidak haram. Terkadang, ia adalah cara alam mengingatkan kita untuk lebih menghargai proses latihan. Tapi lebih dari itu, ia adalah seni merayakan hidup, memaknai perjalanan yang berarti, yang kisahnya masih tersimpan dalam hati, yang bisa saya bagi hari ini. Masih ada kisah lain tentang perjalanan Sindoro ini, tunggu saja.

Tahun 2026 ini, saya akan mencoba peruntungan kembali. Sasaran saya adalah Gunung Sumbing, saudara kembar yang gagah berdiri tepat di seberang Sindoro. Saya tidak datang untuk membalas dendam, tapi untuk kembali belajar dengan persiapan yang (semoga) lebih baik.
​Mohon doanya agar perjalanan saya kali ini tetap dalam lindungan-Nya, dan yang terpenting: pulang ke rumah dengan selamat. Karena puncak hanyalah bonus, tapi rumah adalah garis finish yang sesungguhnya.