Kepada yang bahunya nanti melemah, rambut yang memutih, tenaga yang berkurang, semoga semangat tak tergerus zaman. Apalagi yang bisa kita wariskan pada generasi berikut, selain teladan dan pengalaman?
Jadi, mari kita siapkan pengingat sebelum benar-benar lupa. Bahwa dua puluh tahun pertama telah lewat, cukup panjang. Merekam dua puluh tahun, tentu momen penting yang dapat diingat. Lalu momen mana yang berharga?

Kita hanya dapat menjawab dalam hati, mungkin jawabannya akan terhubung dengan pengalaman-pengalaman lain. Dua puluh tahun kedua, lebih banyak cerita. Rasanya tiap tahun punya ceritanya masing-masing bukan?

Mungkin, perjalanan yang kita jalani, satunya pilihan nasib, dan satunya pilihan sendiri. Bahkan bauran keduanya. Lalu apa pesan luhur yang dapat kita sampaikan pada generasi mendatang?
Bertahan.
Perubahan begitu deras. Teknologi begitu berubah. Dari zaman SMS. BlackBerry, WhatsApp, media sosial, menawarkan kemudahan sekaligus kekuatiran. Perubahan membandingkan diri dari perjumpaan fisik menjadi perjumpaan digital, mengubah sumber kognisi dari berbasis ucapan menjadi teks pada aplikasi. Orang tak lagi tertarik pada gagasan, tetapi penampilan pada akun medsos. Demi konten platform, orang-orang lebih mengutamakan menghiasi linimasa daripada isi kepala. Ungkapan perasaan dituangkan pada akun-akun anonim.
Maka yang tak berubah dianggap aneh. Tapi itulah cara bertahan, agar tak buru-buru digerus zaman.

Tampaknya benar, yang selalu aktual dalam diri kita adalah nilai. Itulah roh yang terus memberi kehidupan, tak peduli pada rupa dan penampilan.
Inilah yang perlu kita wariskan. Ia berdiri kokoh dalam kebertahanan.
Helv 06052023.
