Siluet, Sepeda, dan Mentari di Persinggungan Merapi-Merbabu

Masih gelap. Sebelum pukul lima pagi, kami meninggalkan penginapan dengan sepeda. Udara dingin menusuk, jalanan menanjak, dan lutut mulai goyah. Sepeda tak lagi dikayuh, melainkan didorong perlahan menuju Punthuk Setumbu.

Langkah demi langkah diiringi napas yang berat, tapi hati terus diseret oleh satu harapan: menyaksikan pagi yang belum tentu datang dua kali dengan cara yang sama.

Di puncak, kami tiba tepat waktu. Merapi dan Merbabu berdiri berdampingan, dua gunung megah seperti pelindung pagi. Langit mulai beranjak jingga, dan detik-detik kehadiran mentari pun datang.

Pukul enam lewat. Dari celah dua gunung itu, cahaya pertama menembus cakrawala. Kamera kami serempak mengarah kesana. Kami membidik, mengabadikan, membungkus detik-detik langka dalam bingkai ponsel dan kamera.

Lalu, datang seorang mas-mas—saya lupa menanyakan namanya—menunjukkan cara membidik stupa kecil di depan, agar seolah ditembus cahaya mentari. Saya mengikuti sarannya. Sekali jepret. Hasilnya? Keajaiban yang tak terulang. Ia memberikan arah baru melihat keindahan.

Perjalanan itu mengajarkan bahwa keindahan sering hadir setelah lelah, dan bahwa apa yang kita lihat—seperti kata Plato—tergantung pada apa yang kita cari. Jika kita mencari lebih dari sekadar sunrise, maka kita akan menemukan sesuatu yang lebih abadi: rasa syukur, keterhubungan, dan makna.

Sebagaimana sabda Sapardi, “Yang fana adalah waktu, kita abadi.”

Maka perjalanan pagi itu adalah latihan kecil menjadi abadi—dalam kenangan, dalam rasa, dalam makna yang tinggal diam di dalam hati.