Tidur

Saya membaca suatu topik di pinterest: apa yang Anda takutkan dalam hidup? Sungguh kadang-kadang saya tidak pernah berpikir apa yang saya takutkan dalam hidup. takut itu muncul ketika saya langsung berhadapan dengan rasa takut itu sendiri.

Saya tidak pernah berpikir, saya takut akan apa ya? Kadang-kadang saya merasa takut akan hal yang sepele. contoh saya takut masuk ke suatu ruangan yang saya mendengar ada orang sedang rapat atau sedang berdiskusi dimana saya bukan bagian dari kelompok ataupun grup diskusi tersebut. saya masuk dan semua mata memandang saya. Entah kenapa perasaan itu muncul, mungkin itu salah satu ciri introvert seperti saya. Atau yang kedua, dulu ketika saya bekerja di kantor sebelumnya, saya merasa takut bertemu dengan atasan saya hanya karena saya minta cuti. Saya merasa takut bertemu dengan atasan saya. Saya juga tidak mengerti, itu kenapa ya?. Namun menariknya adalah ketika saya berhasil mengatasi rasa takut itu seperti langsung masuk ke ruangan tadi dan mengambil tempat dan tidak peduli dengan sedang berlangsung diskusi atau tidak. saya merasa lega setelah melakukannya. Demikian juga ketika selesai bertemu dengan atasan, saya lega ketika saya menyampaikan alasan saya dan terlepas dari beban itu.

tetapi sejujurnya saya benci dengan perasaan takut itu. Benci karena saya tidak dapat menguasai diri saya, kenapa saya harus takut? Kenapa?. saya teringat kembali ketika saya bersekolah, saya takut ketemu guru sayadi suatu tempat di luar sekolah. Saya takut mereka akan menyapa saya akan menyapa orang tua saya. Kengerian terekam dalam ingatan seorang anak remaja ketika menyaksikan rekannya ditampar guru sekolah karena terlambat. Gitu, ya.

Tetapi ketika saya dalam kondisi ataupun dalam usia yang sekarang, apa yang membuat saya takut. bukan juga apakah saya melewati tempat-tempat yang seram yang ngeri, enggak. Saya berkali-kali melewati jalan yang gelap. Suatu kali. saya melewati pasar dekat Stasiun Tegal, saya masih berpapasan dengan para pekerja malam jam pada pukul setengah empat pagi…yah masih bertemu dengan yang menyapa saya gitu. Atau saya pernah ke stasiun Yogyakarta dicolek di Pasar Kembang. Tetapi yang baru-baru ini yang membuat saya takut adalah saya tidak berani membaca berita. Kejadian covid ini begitu memukul banyak orang termasuk saya sendiri ketika saya harus berkoordinasi dengan rekan-rekan dari unit kesehatan untuk memastikan siapa saja yang tracing kontak positif dengan salah seorang rekan kerja kantor. Tracing yang dilakukan, pengecekan dilakukan dan menunggu hasil. Menunggu hasil adalah hal yang paling mendebarkan. Enggak tahu kenapa saya sendiri belum berhasil menaklukkan rasa takut itu. Tapi ketika hasil pemeriksaan itu datang: positif atau negatif, hal itu melegakan. Jadi saya berpikir kadang rasa takut karena ketidakpastian terjadi: suatu area menuju keputusan. Ketika kita bisa menerima keputusan itu, maka legalah dari rasa takut itu.

Ketika takut maksimal maka rasa takut sendiri itu pun akan mencapai puncak. Dan terlepas apakah saat-saat takut itu terjadi atau tidak terjadi, toh itu tidak mengubah keadaan justru membiarkan diri saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika takut.

sering kali kita takut karena kita tidak paham, kita tidak mengerti. Maka kuncinya adalah membuka diri untuk memahami.. Jadi, kata berani adalah bukan semata-mata adalah suatu anti takut. Tetapi makna berani adalah mau dan bersedia untukmendalami, memahami sehingga takut itu dikuasai. Bukan ditaklukkan, dikuasai..

Sapardi Joko Damono menuliskan sebuah puisi tentang hakikat agar hidup kita lebih dipahami.

Hujan jalak dan daun jambu

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi.
mereka tidak mengenal Gurindam dan peribahasa, Tapi menghayati adat kita yang purba, tahu kapan harus berbuat sesuatu
Agar kita manusia, merasa bahagia. Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara. Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu. Agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

Yah boleh jadi takut itu datang karena kita terlalu banyak memikirkan ketakutan itu sendiri. Memang sih tidak mudah untuk tidak takut. Barangkali kita punya perlu memejamkan mata kita sebentar, berkhayal, melamun, barangkali tidur, dan besok kita sudah bangun dan kita tahu bahwa kita sudah tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *