Ketika saya sedang asyik bekerja *gaya, teman saya bertanya pada saya. Pertanyaannya seperti ini:
Terlepas dari alasan di atas, saya menyaksikan orangtua saya juga (sepertinya) tidak mengenakan cincin kawin tersebut. Dan sekarang, yang menjadi pertanyaan mendasar ialah:Apakah esensinya cincin tersebut?
Dari komentar yang saya baca pada artikel di atas, salah seorang pengunjung memberi pendapat bahwa pada dasarnya, cincin tersebut merupakan simbol. Simbol dimana trend sosial masyarakat ya seperti begitu. Saya kutip kalimatnya begini:
I love and trust my husband, but not because he wears a ring.
Bahkan ada seorang pengunjung yang komentarnya terkesan ‘menyerang’
Neither one of us wears a ring and we have been together over 10 years. If the only thing telling you he loves you is him wearing a ring you have serious issue
Dari dua komentar di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sesuatu yang sifatnya simbolis, belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Tidak ada jaminan juga siapa yang mengenakan cincin akan senantiasa setia. Toh itu hanya yang tampak saja. Saya baca pada suatu artikel di sebuah blog yang mengatakan bahwa
Ya, selama bukan kawin paksa ala Siti Nurbaya, rasanya kebanyakan pasangan menikah dengan keadaan bahagia di hari pernikahannya (wedding). Bahagiakah pernikahannya (marriage)? Belum tentu.
Mungkin sedang disimpan karena jarinya kegendutan…kabuuuur 