Pajak

Apa yang Anda ketahui tentang pajak? Mungkin di sebagian kita berpendapat bahwa pajak itu adalah sesuatu yang seharusnya diberikan kepada negara. Misalnya ketika kita membeli sesuatu, ini berapa pajaknya, atau ada yang berpendapat  pajak atas tanah dan bangunan yang kita kuasai, atau juga pajak atas kendaraan bermotor. Tidak ada yang salah. Tidak ada. Namun saya merasakan kadang kala edukasi atau sosialisasi tentang pajak ini tidak begitu bagus, tidak begitu masif, bahkan lebih cenderung bikin kepala pusing.

Continue reading

Almanak

Advent Asia Afrika Auditor Bandung Blogger Buku bunga Cianjur Corona Covid doa malam Doa pagi februari foto Fotografi jalanan fotopuisi good words hujan hutan Jakarta jalan Jalan pulang kereta api Kopi Lagu Medan Motor Musik Natal Pandemi pantai posko PSBB Puisi Railways Rain Random refleksi sekolah kehidupan Senja September stasiun sunrise sunset Taman Saparua Work from heart

Continue reading

Anti

Istilah antigen setahun lalu tidak kita kenal secaramasif. Palingan di pelajaran Biologi materi golongan darah. Namun sekarang, tanpa hasil antigen, anda tak dapat beepergian dengan kereta api maupun pesawat. Kapal laut? Bis? Hm…sepertinya tidak ada. Kenapa? Entahlah, belum jadi kasus besar…mungkin. Sebetulnya sebelum vaksinpun teruji mumpuni, pemeriksaan adalah langkah preventif. Tapi, kenapa mahal sekali biayanya? Sudah mahal, ada indikasi tidak akurat pula. Bahkan konon ada sindikat yang dapat memalsukan surat keterangan hasil lab, terutama buat calon penumpang kereta api dan pesawat. Kan gila. Tapi bayangkan, sekeluarga yang terdiri dari lima orang yang mau mudik ke antarpulau naik pesawat, harus test pcr masing-masing Rp900.000. Sangat menyesakkan angka segitu saat ini. Tapi tmpaknya kebutuhan bertemu sangatlah tinggi. Manusia zaman angkatan lahir saya masih lebih suka bertemu langsung daripada bertemu daring. Tapi itupun sudah lumayan sekali dibanding 10 tahun lalu, dimana video con hanya lewat pc/laptop. Sungguh zaman yang sangat berbeda.

Mungkin dampak yang tidak disadari pada masa kini adalah kita menjadi antisosial. Empati tidak terbangun lagi dengan sehat. Peristiwa besar (ataupun kecil) hanya dipantau dari layar kaca baik handphone atau pc/laptop. Kita tidak lagi melakukan kunjungan melawat teman ke rumah sakit, memberi penghiburan bagi yang berduka, mengunjungi sahabat lama yang tak pernah berjumpa. Siapa yang paling rentan dengan keadaan seperti ini? menurut pengamatan saya adalah orang tua usia lanjut. Mereka kehilangan kebersamaan dan teman sapa. Teknologi yang canggih tidak membuat mereka nyaman. Kehadiran begitu penting, isi nomor dua. Saya teringat bila habis bertugas di kebaktian pertama, biasanya sembari makan snack atau minum segelas air hangat, saya menghampiri atau ia menghampiri saya, dan bercakap-cakap bertukar kabar. Dan yang saya ingat, ia menjabat tangan dengan erat. Menunjukkan keakraban dan kehangatan. Dan betapa saat ini, jabat tangan tidak ada lagi. Ada, tapi tidak diadakan. Dan mungkin kita akan lupa bagaimana berjabat tangan, meski vaksin sudah ada. Kehadiran dan jabat tangan adalah dua hal yang membuat kita menjadi anti sosial. Sungguh ironis. Plus kita tak dapat lagi berbagi senyum karena wajah yang tertutup masker. Itulah hidup zaman kini. sampai kapan? sampai maut memisahkan. Halah, gombal.

Supaya tidak lupa, hari ini sebelum pulang, saya mencari sunset di tengah selesainya hujan sore. Saya sedang tak beruntung, sama halnya dengan nasib saya tidak pulang saaat Natal. Begini gambar yang saya dapat:

Sedikit lebih menghibur, supaya ada cerita hari ini sebagai antilupa di tahun depan.

Sekian dan terimalah kasih.

Foto Natal 2020: Sebuah jejak sejarah kecil

Menjelang setengah bulan pergantian tahun 2020. Sungguh tahun yang tidak mudah dilalui, berbagai ragam peristiwa terjadi sepanjang tahun ini. Ada satu kebahagiaan kecil yang perlu dirayakan, yaitu Natal. Natal dengan segala kesenyapannya lesap dalam perayaan-perayaan virtual. Apapun itu, inilah batu ingatan untuk merekam Natal dengan masanya sendiri.

Sebuah ikhtiar dilakukan, sebelum lupa menyamarkan jejak natal tahun ini. Sebuah event lomba foto natal pada persekutuan doa di Bandung membuat jejak sejarah kecil. Saya berkesempatan mencari pesan-pesan dalam gambar, berikut gambar-gambarnya:

Berdasarkan penilaian secara semi profesional, saya menyusun penilaian dan ternyata harus dibuatkan videonya. Jadilah seperti ini, Silakan simak video presentasi dan penilaiannya pada tautan youtube berikut:

Selamat menjelang perayaan Natal buat kita semua. Sehat selalu dan tetap bersemangat.

Salam

Helvry Sinaga

Jalan jawa

Bandung akhir-akhir dingin. Kadang kala sengaja mencari matahari untuk sedikit memeroleh kehangatan. Saya teringat ketika beberapa tahun lalu ketika pertama-tama di kota ini, berusaha mengenalinya dengan setiap malam jalan kaki menelusuri jalan-jalan baru. Kebiasaan tidak menggunakan map kadang menolong untuk menyusun rute dalam kepala, serta mengenali sesuatu yang khas di jalan, supaya jika lewat jalan situ di waktu yang akan datang, lebih cepat memetakan jalan pulang.

Salah satu sudut jalan di mana ada bangunan gereja tua. Terlihat dari gaya bangunannya yang khas eropa banget, bukan khas Indonesia. Inilah gereja Bala Keselamatan (The salvation Army).

Di sebelah gereja ini ada panti asuhan, dan terlihat masih asri. Kabarnya dalam kompleks gereja ini banyak makam, tetapi boleh dikunjungi oleh masyarakat umum.

Saya tertarik untuk datang, tapi entah kapan.